26 Oktober 2008

SOYJOY Belum Ada Label HALAL


Tentu teman-teman-ku semua sudah tahu dong dengan produk "Nutrition Bar Pertama Di Indonesia" ini. SoyJoy merupakan produk makanan yang diproduksi oleh Otsuka Pharmaceutical di Jepang.

Sebagai salah seorang penggemar makanan ringan, saya tentu saja sangat tertarik untuk mencicipi SOYJOY. Dilihat dari iklan-nya saja, lucu banget. Trus kalau dilihat dari bahan pembuatnya bergizi banget tuh, pakai kedelai berarti sangat kaya protein nabati, sehingga baik untuk kesehatan.

Karena keunikannya itu, jujur saja saya sangat ingin mencicipi-nya. Sampai ke sebuah gerai franchaise yang cukup terkenal di Indonesia, saya langsung mencari-cari kebutuhan pokok sebagai seorang bujangan, dan tidak lupa mengincar SOYJOY. OK, target ditemukan, tapi kenapa ya saya merasa cukup aneh dengan kemasan SOYJOY??? Benar saja, biarpun saya seorang pecinta makanan ringan tapi saya tidak gegabah menuruti keinginan saya untuk ingin mencicipi makanan ringan tersebut, sekitar 10 menit saya bolak-balik kemasan-nya untuk mencari sebuah label yang selama ini sering dilupakan umat Muslim, ya LABEL HALAL. Saya tidak dapat menemukan LABEL HALAL pada kemasan SOYJOY, sehingga saya urungkan niat saya untuk mencicipi kenikmatan (dalam fantasi saya) sebatang SOYJOY.

Inilah beberapa alasan saya tidak mengkonsumsi makanan yang belum jelas Ke-HALAL-an-nya:

  • QS Al Maidah (5)
    Wakuloo mimma razaqakumu Allahu halalan tayyiban waittaqoo Allaha allathee antum bihi muminoona

    Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

    Dr. M. Taqiud-Din & Dr. M. Khan:
    And eat of the things which Allah has provided for you, lawful and good, and fear Allah in Whom you believe.

    Yusuf Ali:
    Eat of the things which Allah hath provided for you, lawful and good; but fear Allah, in Whom ye believe.
    Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com
  • Hadis riwayat Nu'man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu , ia berkata:Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (Nu'man menggerakkan jari-jemari ke telinganya): Sesungguhnya perkara yang halal itu telah jelas dan perkara yang haram itu pun telah jelas dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (tidak jelas hukumnya) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Oleh karena itu, barang siapa menghindari perkara syubhat, ia telah membebaskan agama dan kehormatannya. Dan orang yang terjerumus ke dalam syubhat, berarti telah terjerumus ke dalam perkara haram, seperti penggembala yang menggembalakan di sekitar tempat terlarang, maka kemungkinan besar gembalaannya akan masuk ke tempat terlarang itu. Ketahuilah! Sesungguhnya setiap penguasa itu memiliki daerah terlarang. Ketahuilah! Sesungguhnya daerah terlarang milik Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam tubuh itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka akan baik pula seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka akan rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah itu adalah hati
    Hadits marfu' Nomor: 2996 Sumber: http://hadith.al-islam.com/Bayan/ind/

    Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com

  • Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
    Mengkonsumsi makanan yang halal lagi baik akan memberikan pengaruh yang signifikan dalam proses pembersihan jiwa, terkabulnya do’a dan diterimanya amal ibadah. Sebaliknya, mengkonsumsi makanan yang haram, akan menghalangi terkabulnya doa dan diterimanya ibadah. Allah berfirman tentang orang-orang Yahudi. “Artinya : Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan makanan yang haram” [Al-Maidah ; 41-42] As-Suhtu maksudnya adalah makanan yang haram. Barangsiapa yang keadaannya demikian, bagaimana mungkin Allah membersihkan hatinya dan mengabulkan permohonannya ? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. “ Sesungguhnya Allah Maha Baik, tidak menerima kecuali hal yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukminin dengan perintah yang diarahkan kepada para rasulNya. Allah Ta’ala berfirman. “Artinya : Hai para rasul, makanlah dari makanan yang baik dan kerjakanlah amalan yang shalih” [Al-Mukminun : 51] “Artinya : Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” [Al-Baqarah : 172] Sesudah itu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan keadaan seseorang yang sedang dalam perjalanan jauh. Orang tersebut rambutnya kusut, tubuhnya penuh debu, menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya memanjatkan (permohonan do’a) : ‘Wahai, Rabb-ku, wahai Rabb-ku”, namun makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram. Dia tumbuh dengan makanan yang haram, bagaimana mungkin dikabulkan ?[1] Makanan yang halal maupun yang haram, tidak hanya berpengaruh pada hati individu dan perangainya saja, yang berpotensi memperbaiki atau menyimpangkannya, tetapi efek negatif tersebut juga merambah mempengaruhi masyarakat. Sebab sebuah komunitas terdiri dari sekelompok individu. Masyarakat yang di dominasi dengan kejujuran dalam bermua’malah, mengkonsumsi makanan yang diperbolehkan, ia akan tumbuh menjadi sebuah komunitas yang bersih, teladan dan saling menolong lagi kokoh. Sebaliknya, masyarakat yang terkungkung oleh praktek risywah (suap), tipu menipu dan tersebarnya makanan yang haram, akan menjadi komunitas yang ternoda, tercerai berai, indiviudalis, tak mengenal kerjasama saling menolong, hina di mata masyarakat lain, (juga sebagai) ladang subur bagi perkembangan sifat-sifat buruk. Pada gilirannya, akan menyeret masyarakat tersebut pada kondisi yang lemah, tidak lama kemudian akan sirna oleh arus yang kecil sekalipun. Pasalnya, makanan-makanan yang buruk tersebut bisa merusak tabiat manusia, “Allah mengharamkan makanan-makanan yang buruk lantaran mengandung unsur yang dapat menimbulkan kerusakan, baik pada akal, akhlak ataupun aspek lainnya. Keganjilan prilaku akan nampak pada orang-orang yang menghalalkan makanan dan minuman yang haram tersebut, sesuai dengan kadar kerusakan yang terkandung (dalam makanan tersebut). Seandainya, mereka tidak mencari-cari alasan takwil (sebagai pembenaran), niscaya sudah pantas untuk ditimpa siksa (dari Allah)” [2] [Dikutip dari kitab Al-Ath’imah, Syaikh Al-Fauzan, hal. 18-19, Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh Cet. II, Th 1419/1999] [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/1426. Baituna, hal. 07. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 5718] __________ Foote Note [1]. Hadits Riwayat Ahmad, Muslim dan At-Tirmidzi [2]. Majmu Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (10/21)
    Kategori: Makanan, Sembelihan Sumber: http://www.almanhaj.or.id Tanggal: Selasa, 18 April 2006 14:26:15 WIB
    Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com
Setuju.....

Ikuti Blog ini

Langganan

Mau dapet Update-an Blog ini lewat e-mail? Masukkin aja alamat Email kamu disini:

Dikirim Oleh FeedBurner