25 September 2008

Suap - menyuap Dalam Islam


Belakangan ini sedang banyak penerimaan CPNS di beberapa departemen. Yang pastinya banyak isu miring cara - cara yang tidak jujur untuk dapat diterima sebagai PNS disalah satu departemen pemerintah tersebut. Salah satu contohnya ya, menggunakan UANG...... ya itu cara yang paling ampuh untuk bisa menjadi PNS dengan mudah.

Bukan rahasia umum lagi lah. Dengan uang sekian puluh juta rupiah dengan mudahnya kita dapat menjadi PNS. Bahkan saya sendiri menyaksikan orang - orang yang masuk PNS menggunakan cara tersebut, bahkan saya pernah juga ditawari.

Nah sekarang pertanyaan-nya, bagaimana hukum suap menyuap dalam islam?
Halal-kah? sehingga sepertinya hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang sangat wajar dinegara kita yang 90 sekian persen masyarakatnya beragama Islam.

Ok, kita lihat nih:
1. Dalam kitab Bulughul Maram
  • Dari Abdullah Ibnu Amar Ibnu al-'Ash Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat orang yang memberi dan menerima suap. Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi
  • Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat penyuap dan penerima suap dalam masalah hukum. Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Ibnu Hibban.

2. Tanya jawab dengan Syaikh Abdul Aziz bin Baz
  • Pertanyaan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apa implikasi dari budaya suap terhadap aqidah seorang muslim ?
  • Jawaban. Suap dan perbuatan maksiat selainnya dapat melemahkan iman dan membuat Rabb Subhanahu Wa Ta'ala murka serta menyebabkan syetan mampu memperdayai seorang hamba untuk kemudian menjerumuskannya ke jurang maksiat-maksiat yang lain. Oleh karena itu, adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk berhati-hati terhadap suap dan seluruh perbuatan maksiat. Di samping, harus mengembalikan suap tersebut kepada pemiliknya bila memang dapat dia lakukan. Jika tidak, maka dia sedekahkan senilainya mewakili pemiliknya kepada kaum fakir, disertai dengan taubat yang tulus, semoga saja Allah berkenan menerima taubatnya. [Kitab Ad-Da'wah, Juz I ,hal 157 dari Fatwa Syaikh Ibn Baz] [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 6 Darul Haq]
Nah menurut kamu gimana? Masih berani suap-menyuap???

Ikuti Blog ini

Langganan

Mau dapet Update-an Blog ini lewat e-mail? Masukkin aja alamat Email kamu disini:

Dikirim Oleh FeedBurner